Jumat, 15 April 2011

Durjana



Menatap Janji

Kebohongan menutupi perut
Negeri ini malu mendengarnya
Gema kepongahan terukir pada setiap wajah
Mereka tak bisa menatap janji

Jejaknya yang serakah mengulur hidup
Menggulung waktu ketika rebah
Mereka tak kuat memungut mimpi
Walau kau beli dengan kesombongan

Seperti penjajah mengali upeti di otak pribumi
Rajaman tangannya membakar ke poros otak
Seperti rentenir menguras dahaga petani
Durjana bersemi dicinta pemuas aurat

camar



Menunggu camar

Anakku menunggu camar yang lelah
kaki unggas itu dikepal dengan tangan mungilnya
kulihat rindu pada setiap mata mereka
Tapi gelombang juga ingin mencumbu
Berapa buih mengukur ringan nafas kecilnya
Kucoba pagar dengan karang untuk rindu anakku

Muaro padang, 11012011

Kamis, 20 Januari 2011

purgatory



Aku membuka fajar dengan gerimis
Setelah subuh kusimpan rapi
Beberapa doa mengangkat ujung mentari
Sinarnya begitu gemulai mencium pagi
Anak-anak menjadi malas membuka mimpi
Istriku merapikan embun dengan sajadah
Biasnya yang sejuk memeluk gubuk ini

Pintu yang retak mulai dimakan waktu
Mungkin akan kami benahi di tahun ini..

Rabu, 10 November 2010

kurus



Aku ingin kurus

akan kukubur lemak ini pada atap-atap langit
dengan makan hanya sekali
sehari,
sebulan,
setahun,
mungkin sewindu…

tulangku mulai menghirup wajah
dagingku resah menutup lelah
tubuhku semakin kecil dan kurus
untuk memulai tua…

Sungai Pua, 10 Nop 2010

Minggu, 31 Oktober 2010

Stairway to heaven


Hilang

Temanku pergi ditengah gelombang
Arwahnya dikubur pada langit yang basah
Istri dan anaknya menumpuk tengadah diresah cemara

Pada lubuk kuminta kuat
Pada lembah kucium hasrat
Pada hari setiap saat

Kususun kata agar menjadi tangga
Tangga-tangga dinaikan, semoga mencapai surga

Padang untuk Mentawai, 1 November 2010

Sabtu, 30 Oktober 2010

Hijrah



Retak menungggu hijrah
Diam-diam memenggal dingin
Untuk pergi atau melemparinya

Musibah ini begitu kuat
Kuatpun menjadi hancur
Laut membakar mimpi
Pantai meniup janji

Hijrah menjadi keranda
Dipikul dalam mentari
Diingat petang dan pagi

26 Oktober 2010

Rabu, 20 Oktober 2010

20102010



demonstrans

tubuh itu tergeletak
tanganya mengapai udara kemiskinan
nafasnya meraba hasrat demokarsi
matanya ragu menatap resah bangsa ini
hidupnya ciut untuk mimpi kemakmuran

wajah-wajah temanya beringas mengumpul kata
sabagian menari demi negeri yang tak selesai
beberapa aparat mengepung nafas penari
tolong jangan dihentikan

waktu menjadi letih melihat semangat mereka
hasrat menjadi takut melihat darah mereka
tubuh itu masih tergeletak
menuju gelap 20102010

(simpang khatib sulaiman)